Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan

Lantera MinangKabau Mengadakan Buka Bersama

20 September 2008

hari Kamis kemaren tanggal 18 saeptember 2008 Lantera MinangKabau mengadakan Buka Bersama dengan seluruh komunitas Peduli Aids Sumatera Barat di Mesjid komplek PGAI Padang. acara diadakan mulai jam 17.30 yang diisi dengan santapan rohani dari Buya Masoed Abidin. Alhamdulillah pesertanya yang menghadiri kegiatan cukup banyak, berkisar sampai 40-an orang yang merupakan ODHA dan OHIDHA yang aktif di Lantera MinangKabau.

Dalam santapan rohani juga diadakan diskusi dengan buya yang memberikan beberapa kekuatan baru bagi kawan2 ODHA, dimana penyakit yang diderita bukanlah penyakit kutukan melainkan penyakit sebagaimana penyakit yang dialami oleh orang lain, seperti jantung, hipertensi, kanker dan lain-lain.
Kedepan kegiatan diskusi dengan pemuka agama ini akan di follow up setiap bulannya guna memberi bekal bagi kawan2 ODHA dan OHIDHA dalam menjalankan ibadah dan menambah semnagt hidup

"ODHA" bisa sedikit bernafas lega

30 Agustus 2008

Jumat, 29 Agustus 2008 | 04:17 WIB

JAKARTA, JUMAT - HIV/AIDS merupakan penyakit yang diakui sampai kini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan secara tuntas. Obat-obat yang tersedia baru sebatas menekan laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuh penderita dengan harga sangat mahal dan kebanyakan masih diimpor dari luar negeri.

Untuk mendukung penyediaan obat di Indonesia, Unit Produksi Antiretroviral (ARV) Kimia Farma diresmikan Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Indroyono Soesilo yang mewakili Menko Kesra Aburizal Bakrie, Kamis (28 /8), dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kimia Farma ke-37, di Pabrik Kimia Farma, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur.

Pada akhir tahun 2002, Kimia Farma mempertimbangkan untuk memproduksi obat HIV/AIDS karena jumlah pengidap AIDS makin banyak sedangkan obatnya masih belum tersedia. Obat yang tersed ia masih impor jadi dan harganya mahal. Kemudian, Kimia Farma berinisiatif untuk memproduksi ARV KF dengan harga terjangkau, tersedia dan murah. Hal ini didukung berbagai pihak sehingga registrasi dan produksi perdana dapat dilakukan di Pabrik Kimia Farma di Bandung dalam skala proyek.

read more......

Pasokan Obat ARV untuk ODHA di Sumbar Putus

11 Agustus 2008

Ada berita yang cukup menyedihkan dari kawan-kawan Odha (Orang dengan HIV/AIDS) di Sumatera Barat. Sudah satu minggu ini pasokan obat ARV (Anti Retroviral) yang merupakan salah satu bentuk terapi pengidap virus HIV untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya supaya tetap bisa survive terputus. setelah dikonfirmasikan kepada pihak Rumah Sakit yang menjadi tempat distribusi obat ini, didapatkan informasi bahwa obat ini stock nya memang habis dan belum diketahui kapan obat ini akan datang, kalau ini dibiarkan akan banyak kawan-kawan ODHA akan putus mengkonsumsi obat ARV ini. Hari kamis kemaren tanggal 7 Agustus 2008  2 (dua) orang kawan-kawan Odha putus dalam terapi ART ini, hari sabtu 1 (satu) orang, hari minggu 2 (dua) orang, jika hari senin tanggal 11 Agustus 2008 obat ARV ini belum juga masuk di Padang maka akan ada puluhan kawan-kawan ODHA yang akan resistance terhadap obat ini dikarenakan putus dalam mengkonsumsi obat. "Apa yang harus kami lakukan" saat ini sudah ada beberapa orang kawan-kawan yang putus asa dengan kondisi yang terjadi saat ini. Kita mengharapkan tanggapan dan tindakan yang jelas dari Stake holder atau pihak-pihak yang terkait terhadap permasalahan ini. Jangan tutup mata, akses obat ini merupakan salah satu bentuk ketidak seriusan pemerintah dalam upaya penanggulangan dan pemutusan rantai penularan HIV/AIDS di Sumatera Barat. Setelah dkonfirmasikan ke beberapa orang kawan-kawan di Jakarta, obat masih tersedia dan bisa diambil. Akan tetapi dikarenakan rumah sakit rujukan kawan-kawan ODHA di Sumbar bukanlah ke Jakarta maka Obat ini harus ditebus dengan harga yang dirasa cukup sulit di sediakan oleh kawan-kawan ODHA. Seperti makan buah Simalakama, kalau di beli mau cari duit kemana, kalau tidak dibeli ada resiko putus obat sehingga resitance terhadap ARV ini dan terapi yang selama ini dijalankan bisa rusak dan tidak berjalan sebagaimana mestinya lagi.

Kontroversi Pembagian Kondom di Jalanan dan Pembuatan ATM Kondom

16 Juli 2008


Saat ini angka penularan HIV/AIDS untuk kawasan SUMBAR memang di dominasi oleh pengguna Narkoba Suntik atau IDU, akan tetapi saat ini trend sex bebas mulai mendominasi dalam kehidupan remaja saat ini. Hal ini tidak bisa kita pungkiri, pola pacaran yang berjalan saat ini sudah mulai tidak sehat dan tidak save ini bisa dibuktikan dengan banyaknya kejadian.yang terekspos ke media-media, fasilitas esek-esek yang masih tersedia, dan penanganan masalah prostitusi yang kurang serius.

Potensi terbesar kedua untuk penularan virus HIV/AIDS ini berasal dari hubungan seks yang tidak save baik hubungan homoseksual maupun heteroseksual.

Kami pernah menghadiri sebuah seminar sehari yang mengangkat permasalahan HIV/AIDS, dan saat itu kebetulan di daulat menjadi salah seorang narasumber dikarenakan kami berkegiatan di sebuah LSM yang konsen dengan isu HIV/AIDS. Selain kami, ada beberapa elemen lain yang juga menjadi narasumber pada saat itu, seperti Badan Narkitika yang diwakili oleh kepolisian dan juga dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta dari Dinas Kesehatan.

Penyampaian materi dari masing-masing narasumber tidak mengalami kendala yang berarti. Permasalahan muncul disaat kami mencoba memberikan informasi bahwa selama ini kami melakukan outreach atau penjangkauan terhadap teman-teman faktor resiko dengan melakukan kunjungan ke beberapa titik yang menjadi komunitas beberapa penjaja seks komersil. Diwaktu melakukan diskusi di lapangan kami juga memberikan beberapa bungkus kondom dengan maksud agar mereka melakukan hubungan seks dengan lebih save sehingga tujuan kami untuk memutus rantai penularan HIV/AIDS bisa tercapai.

Hal ini mendapatkan respon yang kurang baik dari peserta seminar dan juga dari salah satu narasumber acara. Yang sangat kami sayangkan panitia pun ikut memojokkan kegiatan yang telah kami lakukan tersebut. Terjadilah perdebatan yang menjurus kepada aksi memojokkan dari salah seorang narasumber, peserta dan juga dari panitia kegiatan seminar tersebut. Kami mengakui bahwa kegiatan yang telah kami lakukan salah, akan tetapi apa tindakan kongkrit pemerintah selama ini, “tidak ada” itu yang menjadi point utamanya. Kami mencoba berimprovisasi untuk mengurangi dampak HIV/AIDS ini di SUMBAR, kenapa kami malah dianggap didomplengi oleh pihak-pihak lain untuk menghancurkan SUMBAR. Hal yang sangat kami sayangkan sekali dengan potensi pola piker dari panitia,peserta dan juga narasumber yang memahami agama secara komprehensif hanya bisa memojokkan akan tetapi tidak memberikan solusi konkrit untuk kami memutus rantai penularan virus ini.

Dinas Kesehatan pun menjadi bulan-bulanan saat itu, dengan program ATM Kondom yang akan mereka luncurkan dalam waktu dekat mendapatkan respon yang juga sangat pahit dari seluruh peserta seminar. Kita bisa lihat, kedepan akan bertambah banyak kasus HIV/AIDS Di Sumatera Barat, bertambahlah bayi-bayi mungil yang akan di aborsi oleh ibunya, dan hal-hal lain yang akan menambah rusak falsafah yang diagung-agungkan oleh SUMBAR sampai saat ini “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.

HIDARILAH HIV/AIDS Dengan menggunakan kondom, dan setialah terhadap pasangan anda.

HIV/AIDS berpotensi besar untuk SUMBAR

13 Juli 2008

Dari hasil data yang dimiliki oleh Lantera Minang Kabau yang merupakan salah satu LSM yang konsen dalam program pemutusan rantai penularan HIV/AIDS di SUMBAR, dari bulan ke bulan terjadi peningkatan status dari pengidap HIV menjadi AIDS selain itu kasus-kasus baru pun bertambah seiring banyaknya kawan-kawan positif yang terdeteksi melalui beberapa penangangan medik.

Hasil pantauan LMK (Lantera MinangKabau) dari kegiatan budy list yang bertujuan untuk mengunjungi beberapa kawan-kawan yang positif HIV didapatkan keterangan bahwa faktor resiko untuk penyebaran virus ini masih mendominasi di beberapa prilaku. Untuk SUMBAR kasus terbanyak didominasi oleh prilaku resiko dari pengguna narkoba suntik atau Injection Drugs User yang biasa didapat dari komunitas mahasiswa, setelah itu barulah dari faktor resiko hubungan Homoseks dan Heteroseksual yang tidak save.

SUMBAR yang memiliki banyak Perguruan tinggi bisa dikatakan belum bersih dengan penyalah gunaan narkoba, hal ini didapat dari beberapa informasi yang LMK dapatkan dari program Outreach ke beberapa komunitas IDU di beberapa kampus di SUMBAR.

Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah semua elemen yang merupakan stakeholder untuk program pemutus rantai HIV/AIDS bisa berangkulan tangan untuk menyelamatkan slogan dan falsafah yang ada di SUMBAR yang sampai saat ini masih didengungkan oleh pemuka-pemuka masyarakat.