Pemimpin Frustasi

12 November 2014

Ada sedikit cerita yang mau saya bagiin sama para pecinta blog saya (yang sedang baca, jangan lagsung diklik close ya.... :D). Ini cerita kawan yang bekerja disebuah perusahaan yang memiliki pemimpin yang tidak punya keberanian dan tidak memiliki nilai tawar di mata karyawannya....

Huffftttt.....saya sebenarnya mau bercerita tentang hal hal yang nggk terlalu berat, tapai apa mau dikata, memang inilah kehidupan, kadang cerita serius bisa kita jadikan sebuah guyonan yang bisa memberikan kesegaran dalam menikmati hidup (nggk tau juga kalo cerita saya nanti akan bisa dianggap sebagai sebuah guyonan.... :P)

Awalnya kita hanya berdiskusi saja mengenai teknik berkomunikasi dalam sebuah organisasi, dengan gaya sok pinter....saya bilang sama kawan saya, kalo dalam ilmu komunikasi bisnis organisasi, banyak hal yang harus dipikirkan matang matang sebelum dikomunikasikan, ada trend dan juga style berkomunikasi yang dilakukan antara pemimpin dengan karyawan ataupun sebaliknya (nah...kan...mulai serius lagi nih ceritanya...)


Dari sini, kawan tersebut mencoba curhat dengan apa yang dialaminya di kantor, kebetulan kawan ini bekerja diperusahaan jasa. Kantornya tersebut memiliki tempat yang cukup luas dan berada dijalan utama, di samping kantornya terdapat koperasi karyawan yang telah cukup lama berdiri dan telah di jalankan turun temurun oleh pengurus yang sering bergonta ganti sesuai dengan iklim mutasi dan promosi yang terjadi di kantor kawan tersebut.

Kawan ini termasuk anggota dan dekat dengan pengurus serta anggota anggota senior koperasi ini, sehingga kawan ini sering membantu koperasi ini baik secara materil maupun spirit. Nggk jelas alasan apa, karyawan koperasi yang saat ini hanya tersisa satu orang ini dipanggil oleh manager kantor kawan tersebut. Nggk ada angin, nggk ada hujan si manager bilang kalo koperasi ini harus ditutup karena ada aturan perundang undangan yang menyatakan bahwa di area kantor mereka tersebut tidak boleh ada bisnis yang mendompleng.

Sontak, si karyawan kaget dan setelah keluar dari ruang manager tersebut, dia langsung mencari kawan ini untuk menyampaikan informasi terkait penutupan tersebut. Si karyawan koperasi sempat mempertanyakan, kenapa baru sekarang hal ini dipertanyakan, kok nggk dari dulu disampaikan bahwa nggk boleh ada koperasi disana. Si manager nggk bisa jawab dengan fasih, jawabannya simple saja, makanya sekarang disampaikan....tolong beritahu kepada pengurus koperasi ini.

Padahal bukan hanya pengurus yang harus dihadapi jika mau menutup koperasi ini, semua anggota yang masih memiliki simpanan, penagihan terhadap pinjaman yang masih berjalan dan lain lain.

Setelah mencari dan menganalisa, akhirnya kawan ini berhasil mengambil kesimpulan kenapa ada keputusan penutupan koperasi ini. Ternyata banyak karyawan yang sering berkumpul di koperasi tersebut untuk sarapan dan melakukan aktifitas istirahat, sehingga manager melihat ada resiko jika koperasi ini tetap aktif dilokasi kantornya.

Saya bertanya ke kawan tersebut, emangnya banyak karyawan yang bolos dan memilih koperasi untuk mengamankan diri dari pekerjaannya. Kawan ini menjawab dengan cepat dan tegas, ya nggk lah....lha wong teman teman itu hanya numpang sarapan karena pantry kantornya kecil dan nggk nyaman, kemudian koperasi ini juga dimanfaatkan oleh teman teman yang sedang menyusui anak untuk melakukan kegiatan mompa ASI...karena kantor kami nggk menyediakan ruang khusus untuk ibu menyusui.

Kurang baik apa coba tuh koperasi, udah bantuin kantor memfasilitasi kebutuhan karyawannya. Kawan ini melihat ada wakil manager yang tidak suka dengan keberadaan koperasi ini karena sering dijadikan tempat kongkow kongkow karyawan, padahal dia nggk paham apa perbedaan kongkow dan  sarapan/mompa ASI. Memang dikantor tersebut si wakil sudah tidak punya muka dimata karyawannya secara organisasi, karena terlalu sering merecoki karyawan mulai dari hal yang kecil sampai hal yang bersifat tidak penting. Sehingga secara alami terjadi penolakan dari karyawan kepada wakil tersebut, dan nggk tau kenapa....apakah memang berkepala besi atau memang nggk nyadar kondisi, si wakil masih aja mencampuri urusan remeh temeh karyawan.

Kawan ini pernah berusaha menggagalkan gerakan seluruh karyawan kantor tersebut yang ingin mengirimkan surat kesepakatan bersama untuk tidak menerima si wakil ini karena telah merusak sistem kerja yang selama ini telah terbangun dengan baik, surat sudah ditanda tangani oleh seluruh karyawan dan siap untuk dikirimkan. Karena masih mengingat dan mempertimbangkan beberapa hal, makanya kawan ini berhasi menghentikan niat rekan rekannya tersebut.

Yang menjadi point penting dan kenapa saya mengambil judul "Pemimpin Frustasi" adalah, teknik yang dilakukan oleh si manager dengan wakilnya yang tidak membangun komunikasi kepada karyawannya, tapi dengan kekuatan sistem yang dimiliki (otoriter), mereka memperlihatkan kemampuan berdiplomasi dan berdiskusi yang sangatlah rendah. Sehingga bisa dikategorikan bahwa mereka secara konsep sudah tidak memiliki kekuatan sebagai seorang pemimpin, karena kekuatan paling utama seroang pemimpin adalah "teknik memperngaruhi orang lain" yang tentunya dijalin dengan cara berdiskusi.

Karena ada ketakutan akan terjadi penolakan besar besaran, maka mereka potong jalur untuk langsung menghancurkan apa saja yang akan memfasilitasi kemungkinan tersebut. Padahal jika dilakukan diskusi, apa, kenapa dan bagaimana.....supaya karyawan tersebut tidak terkesan kongkow kongkow di koperasi tersebut, pasti akan menimbulkan kesadaran sendiri bagi karyawan yang benar benar tidak memilki kepentingan untuk tidak membuang buang waktunya di tempat tersebut.

Kalau saya menganalogikannya, jika seseorang sedang batuk maka apa yang harus dilakukan....?

Kalau dimata pemimpin yang memiliki daya tawar dan pengaruh kuat dimata karyawannya, dia akan membeli obat batuk yang paling manjur sembari mendiskusikan dengan penderita batuk tersebut,untuk meredakan batuknya...

Dan jika di mata pemimpin pasrah seperti cerita diatas, apa yang akan dilakukannya?......dia akan membunuh orang tersebut agar batuknya tidak menular dan mengganggu aktifitas yang lain...

inilah cara pintas yang dilakukan agar keputusannya tersebut bisa langsung menghasilkan output yang jelas, padahal banyak resiko yang akan terjadi setelah itu.

Cerita kawan ini memberikan pelajaran penting bagi saya, bahwa komunikasi sangat berperan penting dalam menjalankan roda organisasi, pemimpin yang berkuasa dengan cara otoriter akan mendatangkan efek berbahaya bagi organisasi tersebut. Teamwork yang baik dibangun dengan landasan komunikasi yang kuat, jika ada yang menyimpang dari komunikasi baik tersebut, maka teamwork tersebut diambang kehancuran.

Saya tetap melihat bahwa pengalaman berorganisasi menjadikan seseorang memilki kesiapan mental dalam menjalankan kehidupan berorganisasi dimana saja, makanya saya menghimbau para pembaca setia blog ini....siapapun anda dan berapapun umur anda...masuklah dan berkiprahlah di organisasi apa saja yang tersedia disekeliling anda, karena organisasilah sekolah gratis bagi calon pemimpin yang  sukses dalam berkehidupan, dan ilmunya tidak hanya terpakai di pekerjaan saja tapi disetiap lini kehidupan, saya sudah merasakan manfaatnya......





0 komentar:

Posting Komentar