Listrik Pudur Sebagai Sebuah Rutinitas

05 Agustus 2009

Listrik kayaknya udah menjadi salah satu kebutuhan pokok dalam melakukan aktifitas sehari-hari, apalagi bagi penggiat usaha.

Kemaren tanggal 4 Agustus 2009, listrik di seputaran daerah Kota Padang menjadi bahan pembicaraan dimana-mana, di kedai kopi, kedai lotek, pangkalan ojek, warnet-warnet dan juga di pusat-pusat ngegosip-nya para ibu-ibu rumah tangga. Gimana nggak, Listrik di padamkan oleh PLN semenjak pukul 21.30 WIB tgl 3/8/09 hidupnya baru pukul 3 pagi, kemudian pukul 6 pagi mati lagi dan baru hidup sekita pukul 4 sore, pukul 18.30 listrik kembali pudur dan baru hidup pada pukul 21.00 WIB........

Seloroh beberapa ibu-ibu disekitar komplek saya "lah bantauk makan ubek mati lampu kini mah, tigo kali sahari (udah kayak minum obta jadwal mati lampu sekarang)"

Ada juga yang memberanikan diri guna menelpon Kantor PLN, mereka mencak-mencak dan pengen lampu dihidupkan kembali. Jawaban dari pihak PLN pun sudah bisa ditebak, Generator kita emang lagi sedikit pasokan airnya sehingga daya watt yang dihasilkan mesti dibagi-bagi, jadi ini bukan kesalahan kita.

Saya sedikit heran dengan kondisi ini, PLN sudah menganggap ini sebagai siklus rutin karena penurunan debit air di Danau Singkarak. Sehingga kondisi ini akan terus berulang-ulang setiap tahunnya tanpa ada penyelesaian.

Jika pemerintah memang serius menangani, bangun donk pembangkit listrik baru yang bisa menambah kapasitas dan juga sebagai alternatif jika PLTA ataupun Pembangkit listrik di lokasi lain mengalami penurunan kapasitas. Jangan hanya menyokong pembangunan hotel, jalan, pusat perbelanjaan. Listrik merupakan kebutuhan yang saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok/primer. Berapa banyak usaha yang terganggu dan bisa mengakibatkan kerugian, hal ini juga akan berefek ke pendapatan asli daerah.

Berapa banyak kejadian gara-gara pemadaman bergilir ini, kebakaran di Dhamasraya yang memakan korban satu keluarga, di daerah lain di Sumbar juga terjadi kebakaran yang dipicu oleh pudurnya listrik. Berapa banyak usaha yang tutup untuk sementara, pengelola warnet, fotocopy, bengkel cat dan usaha lainnya. Berapa banyak ibu-ibu yang menghirup Karbondioksida dari hasil genset di Pasar Raya, malahan ada yang sempat pingsan. Berapa banyak pengunjung yang urung berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dikarenakan kondisi didalam plasa ataupun sentra Pasar Raya panas akibat ketidak mampuan genset menghidupkan AC. Berapa banyak prosesi akad nikah yang terganggu ke khusyukannya, sehingga didalam photo pernikahan terlihat pengantin sedang berijab qabul ditemani oleh lampu strogkeang atau lampu emergency.Banyak lagi hal-hal yang mengganggu aktifitas kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ada juga beberapa tukang ojek ngomong ke saya, apa salahnya di bangun juga PLTA di danau kembar atau di danau-danau lainnya di Sumatera sehingga bisa lebih bagus hasilnya. Dari sisi logika, ungkapan tersebut masuk akal....akan tetapi semuanya butuh perhitungan yang lebih matang oleh pemerintah. Akan tetapi kalau kondisi ini dipadiarin seperti ini terus, sampai kapan masyarakat di Sumbar akan bisa memikirkan hal-hal yang bermanfaat bagi Sumbar jika masalah listrik saja tidak selesai-selesai.

Hal ini sudah barang tentu menjadi pemikiran bersama antara pemerintah Pusat dan juga pemerintah daerah. Sampai detik ini masyarakat masih sabar, dan saya cukup heran dengan kenyataan yang terjadi saat ini dimana masyarakat yang dulunya sering melakukan demonstrasi sekarang bisa menikmati pemadaman ini degan lapang dada. Akan tetapi pemerintah jangan lengah, kesabaran masyarakat pasti ada batasnya.

Lakukanlah yang terbaik bagi masyarakat anda wahai pemerintah.

0 komentar:

Posting Komentar