Gejolak kampungisme

23 Juni 2009

Mau cerita dikit nih, kebetulan ini terjadi di dekat rumah saya di Kawasan Kecamatan Kuranji Kota Padang.

Ceritanya berawal dari rumah seorang bapak (sebut saja namanya Didi-red), yang berada dekat dengan rumah saya. Rumahnya cukup besar dan terlihat agak berbeda dengan rumah kebanyakan lainnya disekitar pemukiman tersebut. Pak Didi ini telah tinggal di lokasi tersebut lebih kurang 20 tahun.

2 Bulan yang lewat, didepan pagar pak didi teronggok segunduk pasir, setelah dikonfirmasi ternyata tanah pasir tersebut miliknya tetangga di depan rumah beliau yang berada sekitar 30 m. Tanah itu sengaja di tarok disana karena tidak memungkinkan rasanya mobil pengangkut memasuki gank ke rumah ybs. Dengan jiwa besar Bapak Didi hanya menyampaikan supaya tanah pasir itu segera di pindahkan, supaya tidak menganggu pemandangan dan mobil bisa di parkir lagi di depan rumah tersebut (hal itu wajar saja dilakukan karena, kondisi pasir tersebut cukup menyulitkan untuk parkir mobil). Setelah di lihat beberapa hari, beberapa minggu....tanah pasir tersebut belum juga dipindahkan. Tetap dengan kesabaran Pak Didi hanya mengingatkan kembali, dan meminta iktikad baik dari tetangga beliau. Setelah 2 minggu tanah tersebut berdiri manis di depan rumahnya, barulah tanah itu diangkat oleh sang pemilik. Ceritanya belum habis disitu.......

Tanggal 1 Mei 2009 kemaren (saya masih ingat tanggal tersebut karena kebetulan awal bulan), rumah Pak Didi kembali dihiasi oleh gundukan tanah sang tetangga. Kali ini tanahnya lebih sumringah dari tanah sebelumnya. Yang sebelumnya adalah pasir pantai biasa, sedangkan yang kali ini merupakan tanah galian yang berwarna coklat kehitaman dihiasi beberapa kayu-kayu balok besar dan bau yang cukup menyengat. Sepintas lalu tanah tersebut seperti tanah dari bencana Galodo di Batusangkar yang baru saja terjadi (saking kotornya....). Tanah yang diturunkan sebanyak 4 truk besar.....bayangkan banyaknya bongkahan tanah yang terhidang dengan lezatnya.
Malam pertama disaat  tanah bercokol dengan gagahnya
Spontan saja tuh Bapak dan anggota keluarganya yang lain agak sedikit dilecehkan, karena sang tetangga selain meletakkan tanah sembarangan juga tidak meminta izin dari Pak Didi yang notabene masih tinggal dirumah tersebut. Setelah dikunjungi oleh salah seorang anaknya Pak Didi guna mengkonfirmasikan keberadaan tanah tersebut, sang tetangga mengeluarkan beberapa statement yang menambah emosi seperti " itukan bukan tanah bapak, tanah bapak kan hanya sampai pagar, nah kalo yang di depan pagar itu bukan tanah bapak lagi....nggk ada salahnya donk, kami narok tanah galian disana". Dengan penuh kesabaran, si anak kembali menjelaskan bahwa tanah tersebut memang bukan tanah kami akan tetapi kondisi tanah tersebut terlihat kurang layak di tempatkan di depan rumah kami. Sang tetangga kembali mengeluarkan kata2 yang lebih menyakitkan "Kalo pengen rumahnya indah dan enak dipandang mestinya tinggal di Jl. Sudirman saja (Salah satu jalan protokol di Kota Padang, tempat berkantornya Gubernur Sumbar), nggk bakalan ada tanah gundukan seperti ini". Dengan penuh pengharapan, sang anak hanya memohon supaya tanah tersebut cepat-cepat dipindahkan supaya permasalahan ini tidak begitu rumit lagi.
 Kondisi tanah setelah 5 hari (belum ada perkembangan)
Setelah ditunggu beberapa hari, tanah tersebut belum juga di cicil pemindahannya. Pak Didi dan keluarga pun tetap bersabar. Sampai akhirnya datang lagi dua buah truk besar mengangkut tanah galian itu kembali, spontan Pak Didi dengan semangat memperjuangkan harkat dan martabatnya mencoba menghentikan penurunan tanah tersebut di depan rumahnya. Hal ini mendapat perlawanan dari sang tetangga, kejadian ini menjadi perhatian dari tetangga lain yang ikut simpati dengan nasib yang dialami oleh Pak Didi, namun tidak bisa membantu apa-apa (maklum sang tetangga pemilik tanah merupakan salah seorang preman/urang bagak di kampung itu). Setelah cekcok sedikit (sang tetangga sempat mengutarakan bahwa "kayaknya kita dijajah sama pendatang nih", padahal dengan angka 20 tahun seharusnya Pak Didi sudah tidak dianggap pendatang lagi, dan mereka juga telah membaur ditengah-tengah masyarakat) dan ditengahi oleh RT yang juga merasakan bahwa tetangga tersebut sudah terlalu kelewatan. Maka tanah tersebut di turunkan di sebelah rumah Pak Didi yang kebetulan tanah kosong.

Tanah tersebut bercokol di depan rumah Pak Didi sekitar 2 minggu lebih, Pak Didi dan seluruh keluarganya hanya bisa mengurut dada karena ada keindahan baru yang terhampar di depan rumahnya.

Dari sedikit cerita diatas, ada beberapa point yang bisa saya sampaikan.
Dizaman yang sudah maju saat ini, pemikiran-pemikiran haruslah lebih jernih, sikapi permasalahan dengan tenang. Berbuatlah sesuatu dengan berlandaskan perasaan, kalau kita melakukan sesuatu bagaimanakah perasaan orang lai. Jangan pernah menyakiti hati seseorang, karena hal itulah yang akan menjadi beban bagi kita sepanjang masa.

Berbuatlah yang terbaik bagi keluarga, orang lain dan diri kita sendiri..............

0 komentar:

Posting Komentar